Sistem pembuat air tawar dari air laut menggunakan teknologi evaporasi vakum bertenaga waste heat mesin. Solusi mandiri untuk kapal laut, platform offshore, pulau terpencil, dan fasilitas maritim yang jauh dari sumber air tawar.
Fresh Water Generator (FWG) adalah sistem produksi air tawar dari air laut menggunakan prinsip evaporasi vakum — sebuah solusi mandiri yang telah menjadi kebutuhan vital kapal laut komersial, kapal perang, platform offshore, dan fasilitas di kepulauan terpencil. FWG memanfaatkan panas buangan dari jacket cooling water mesin utama kapal (60–80°C) untuk menguapkan air laut pada tekanan vakum rendah, kemudian uap tersebut dikondensasikan menjadi air distilat murni berstandar air minum dengan TDS di bawah 10 ppm.
PT Tirta Sumber Makmur adalah mitra resmi suplai dan instalasi FWG untuk TNI AL, armada kapal komersial Pelindo, dan platform offshore di perairan Indonesia. Kami menyediakan FWG dari merek terkemuka seperti Alfa Laval, Sasakura, dan Norwater dengan kapasitas 1 hingga 100 ton/hari, lengkap dengan layanan instalasi, komisioning, dan purna jual di seluruh pelabuhan Indonesia.
Prinsip kerja FWG mengeksploitasi fakta fisika bahwa titik didih air turun drastis seiring penurunan tekanan. Pada tekanan vakum 0,05–0,1 bar, air laut sudah mendidih pada suhu 40–65°C — jauh di bawah titik didih normal 100°C. Panas yang dibutuhkan cukup dipasok dari jacket cooling water mesin utama yang biasanya terbuang sia-sia ke heat exchanger seawater.
Alur proses FWG: (1) Air laut masuk sebagai feed sekaligus media kondenser — mendinginkan uap yang terbentuk sebelum memanas sendiri. (2) Feed air laut panas masuk ke evaporator dan menguap dalam kondisi vakum. (3) Uap bersih (tanpa garam) naik ke kondenser di bagian atas. (4) Kondenser mendinginkan uap menjadi air distilat murni. (5) Pompa distilat mengalirkan air ke tangki penyimpanan. (6) Brine (air laut pekat) dibuang kembali ke laut. Siklus ini berjalan kontinu selama mesin kapal beroperasi.
| Prinsip Kerja | Evaporasi vakum (single/multi-effect) |
| Kapasitas | 1 – 100 ton/hari |
| Sumber Panas | Jacket cooling water mesin, 60–80°C |
| Tekanan Operasi | Vakum 0,05 – 0,1 bar |
| TDS Output Distilat | < 10 ppm |
| Konsumsi Listrik | 0,5 – 1 kW per ton output |
| Material | Titanium plate / Cupro-Nickel |
| Sertifikasi | BKI, DNV, Lloyd's Register, ABS tersedia |
Sebagai spesialis water treatment maritim dengan pengalaman lebih dari 24 tahun di Indonesia, TSM memahami kondisi operasional unik kapal dan offshore: ruang terbatas, vibrasi mesin, variasi beban panas, dan kebutuhan reliability tinggi karena jauh dari fasilitas perbaikan.
Armada KRI TNI Angkatan Laut — TSM menyuplai dan menginstalasi FWG 30 ton/hari untuk beberapa unit KRI kelas fregat. Sistem dilengkapi auto-dump salinometer dan post-treatment klorinasi untuk memenuhi standar air minum militer. Integrasi dilakukan di galangan kapal PT PAL Surabaya dengan supervisi perwakilan BKI dan TNI AL. Operasional tanpa kendala selama lebih dari 5 tahun.
Platform Offshore di Selat Makassar — FWG 50 ton/hari menggantikan pengiriman air tawar dengan supply boat yang biayanya mencapai Rp 800 juta/tahun. Dengan FWG memanfaatkan waste heat turbin gas platform, biaya produksi air tawar turun ke Rp 15.000/ton — payback period dicapai dalam 14 bulan dari investasi awal.
FWG menggunakan evaporasi vakum: air laut dipanaskan oleh panas buangan mesin kapal, menguap pada tekanan rendah, lalu uapnya dikondensasikan menjadi air tawar. Tidak butuh listrik besar karena memakai waste heat. SWRO menggunakan tekanan osmosis tinggi (60–70 bar) yang memerlukan pompa berdaya besar. FWG lebih cocok untuk kapal besar yang punya banyak waste heat mesin; SWRO lebih fleksibel untuk sumber energi variatif termasuk surya.
Air distilat FWG sangat murni (TDS < 10 ppm), tapi perlu post-treatment sebelum dikonsumsi: remineralisasi dengan CaCO3 cartridge, dosing klorin residual, dan UV sterilizer. TSM selalu menyertakan post-treatment wajib ini dalam paket instalasi FWG untuk keamanan kru.
FWG evaporasi vakum hanya membutuhkan listrik untuk pompa sirkulasi dan vakum, sekitar 0,5–1 kW per ton output. Energi panas yang digunakan adalah waste heat dari jacket cooling water mesin utama yang sebelumnya terbuang sia-sia. FWG tidak dapat dioperasikan saat kapal berhenti dan mesin mati, sehingga kapal perlu cadangan air di tangki.
Kapasitas FWG ditentukan jumlah kru dikali konsumsi per orang: 15–30 liter/hari untuk minimal, hingga 150 liter/hari untuk kapal penumpang mewah. Kapal kargo 20 kru biasanya cukup FWG 5–10 ton/hari. Kapal corvette TNI AL kami suplai FWG 20–30 ton/hari. Platform offshore 100 personel bisa butuh 50–80 ton/hari. TSM membantu kalkulasi ini di tahap konsultasi awal.
Ya, FWG dapat dipasang sebagai retrofit selama kapal memiliki jacket water cooling engine yang cukup (≥60°C) dan ruang di engine room. TSM melakukan survei teknis ke kapal untuk menilai kelayakan retrofit, termasuk kapasitas heat engine, jalur perpipaan yang ada, dan space yang tersedia. Waktu instalasi retrofit biasanya 3–7 hari.
Dengan rekam jejak pengerjaan FWG untuk TNI AL, Pelindo, dan operator offshore nasional, TSM adalah mitra terpercaya untuk kebutuhan air tawar maritim Anda di seluruh perairan Indonesia. Hubungi tim marine engineer kami untuk konsultasi teknis dan penawaran tanpa biaya.
Tim marine engineer TSM siap membantu menghitung kapasitas FWG yang tepat dan merancang sistem post-treatment untuk keamanan air minum kru Anda.