Sistem Reverse Osmosis khusus air payau untuk mengolah air sumur asin, air tanah TDS tinggi, dan sumber air payau pesisir menjadi air bersih berkualitas tinggi. Solusi paling efisien dan ekonomis untuk wilayah dengan intrusi air laut atau akuifer mineral tinggi di seluruh Indonesia.
Brackish Water Reverse Osmosis (BWRO) adalah teknologi pengolahan air payau — air dengan kadar garam (TDS) antara 1.000 hingga 10.000 ppm — menjadi air bersih yang memenuhi standar air minum atau air proses industri. BWRO menjadi solusi vital bagi ribuan industri dan komunitas di Indonesia yang berada di wilayah pesisir, bekas lahan tambang, atau daerah dengan kondisi geologi yang menyebabkan air tanah memiliki kandungan mineral dan garam terlarut sangat tinggi.
PT Tirta Sumber Makmur merancang dan membangun sistem BWRO dari kapasitas 1 hingga 500 m³/hari dengan menggunakan membran Dow Filmtec BW series, Toray TM series, atau Hydranautics ESPA yang dioptimalkan khusus untuk air payau. Dengan tekanan operasi 8–20 bar dan konsumsi energi hanya 0,5–2 kWh per m³ produk, BWRO memberikan biaya operasional 3–5 kali lebih rendah dibandingkan teknologi desalinasi air laut (SWRO).
| Parameter | TWRO | BWRO | SWRO |
|---|---|---|---|
| TDS Air Baku | 200–1.000 ppm | 1.000–10.000 ppm | 30.000–45.000 ppm |
| Tekanan Operasi | 4–10 bar | 8–20 bar | 55–70 bar |
| Konsumsi Energi | 0,2–0,5 kWh/m³ | 0,5–2 kWh/m³ | 3–5 kWh/m³ |
| Recovery Rate | 75–90% | 70–85% | 35–45% |
| TDS Produk | <50 ppm | <500 ppm | <500 ppm |
| Sumber Air Tipikal | PDAM, sumur tawar | Sumur payau, pesisir | Air laut |
| TDS Air Baku | 1.000 – 10.000 ppm |
| Kapasitas | 1 – 500 m³/hari |
| Tekanan Operasi | 8 – 20 bar |
| Rejection Rate | 96 – 99% |
| Recovery Rate | 70 – 85% |
| TDS Produk | < 500 ppm (dapat < 50 ppm dengan 2-pass) |
| Konsumsi Energi | 0,5 – 2 kWh/m³ |
| Membran | Dow Filmtec BW30, Toray TM720, Hydranautics ESPA |
| Otomasi | PLC / SCADA tersedia |
Masalah air payau bukan isu kecil di Indonesia. Berdasarkan data Kementerian PUPR, lebih dari 5,7 juta orang di wilayah pesisir Indonesia menghadapi masalah intrusi air laut ke akuifer air tawar — khususnya di musim kemarau saat muka air tanah turun drastis. Beberapa wilayah dengan kebutuhan BWRO tertinggi:
Pabrik Pengolahan Udang di Sidoarjo — Air sumur artesis di lokasi pabrik memiliki TDS 4.200 ppm dengan kandungan klorida tinggi. TSM merancang sistem BWRO 80 m³/hari dengan pre-treatment softener untuk hardness dan antiscalant dosing. Air produk mencapai TDS 180 ppm, memenuhi standar air proses pengolahan hasil laut. Penghematan biaya dibanding membeli air tangki: Rp 1,2 miliar per tahun.
RSUD di Pesisir Kalimantan Selatan — Rumah sakit dengan 150 tempat tidur bergantung pada air tangki dari kota dengan biaya logistik sangat tinggi. TSM menginstalasi BWRO 30 m³/hari menggunakan air sumur payau setempat (TDS 3.800 ppm). Post-treatment meliputi UV sterilizer dan remineralisasi. Rumah sakit kini mandiri air bersih dan menghemat Rp 480 juta per tahun dari biaya pengiriman air.
Air payau adalah air dengan TDS antara 1.000–10.000 ppm — lebih asin dari air tawar biasa tapi jauh lebih rendah dari air laut (35.000 ppm). Air ini banyak ditemukan di pesisir pantai, daerah dengan intrusi air laut ke akuifer, bekas tambang, dan beberapa wilayah di Jawa, Kalimantan, dan Sumatra. Air ini tidak layak diminum dan merusak proses industri. BWRO adalah teknologi paling efisien dan ekonomis untuk mengolahnya — jauh lebih hemat energi dibanding SWRO.
BWRO untuk air payau beroperasi pada tekanan 8–20 bar, jauh lebih rendah dari SWRO air laut yang membutuhkan 55–70 bar. Dampaknya langsung pada energi: BWRO hanya butuh 0,5–2 kWh/m³, sedangkan SWRO membutuhkan 3–5 kWh/m³ — 3 hingga 5 kali lebih hemat.
Ya, BWRO sangat tepat untuk mengolah air sumur di pesisir yang mengalami intrusi air laut, selama TDS air sumur di bawah 10.000 ppm. Jika TDS mendekati atau di atas 10.000 ppm, kami merekomendasikan membran SWRO tekanan menengah atau kombinasi BWRO dua pass. TSM menganalisis sampel air sumur Anda secara gratis sebelum merekomendasikan solusi.
Recovery rate BWRO umumnya 70–85% — dari 100 liter air payau, 70–85 liter menjadi air produk bersih dan hanya 15–30 liter menjadi brine. Recovery ini jauh lebih tinggi dibanding SWRO yang biasanya 35–45%. Recovery tinggi berarti penggunaan air baku lebih efisien dan volume brine yang perlu dibuang lebih sedikit.
TWRO dirancang untuk air dengan TDS rendah 200–1.000 ppm seperti air PDAM. BWRO dirancang untuk air dengan TDS 1.000–10.000 ppm menggunakan membran khusus air payau dengan rejection rate lebih tinggi dan tekanan operasi lebih besar. Menggunakan membran TWRO untuk air payau akan menghasilkan kualitas produk buruk dan mempercepat kerusakan membran.
TSM memiliki rekam jejak panjang dalam menyelesaikan masalah air payau di seluruh Indonesia — dari Jawa Utara hingga pesisir Kalimantan dan Nusa Tenggara. Kirimkan sampel air Anda untuk analisis gratis, dan tim engineer kami akan merancang solusi BWRO yang paling efisien untuk kondisi spesifik Anda.
Kami siap menganalisis air baku Anda secara gratis dan merancang sistem BWRO yang paling efisien — agar Anda mendapatkan air bersih berkualitas dengan biaya operasional serendah mungkin.